CARA BEREMPATI
Bacaan: Ayub 16:1-5
NATS: Akupun dapat berbicara seperti kamu,sekiranya kamu pada tempatku;aku akan mengubah kata-kata indah terhadap kamu,(Ayub 16:4a)
Dari cara teman-teman Ayub berusaha menghiburnya, kita mempelajari prinsip dasar tentang menghibur sesama yang sedang dalam penderitaan,yaitu: kemampuan seorang penghibur untuk membantu tidak tergantung pada bakatnya berkata-kata, tetapi pada bagaimana ia mau bersimpati dan hadir dengan orang yang menderita. Pengertian semacam itulah yang diharapkan Ayub saat teman-temannya berusaha menasihati dia.
Ayub berkata:
Belum habiskah omong kosong itu ? (ayat 3a)
Seorang Dr mengungkapkan kebenaran ini dalam bukunya ia menulis: "Ketika saya menanyai para pasien dan keluarga mereka: Siapakah yang dapat menolong Anda dalam menghadapi penderitaan ini?dan dia mendapatkan jawaban yang aneh. Orang yang digambarkan justru pribadi yang tidak luwes berbicara, yang tidak berkepribadian menarik, ataupun riang gembira.Tapi justru orang yang diharapkan adalah orang yang pendiam, penuh pengertian dan yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, yang tidak menghakimi atau bahkan memberi banyak nasihat.
Mari kita renungkan kehadiran kita selama ini untuk orang yang sedang menderita melalui pertanyaan dibawah ini :
--apakah kita seorang yang sabar mendengar keluhan orang lain ?
--apakah kita seorang yang ada ketika dia membutuhkan kehadiran kita?
--apakah tangan kita mau digenggam?
--adakah pelukan kita yang penuh pengertian?
--bisakah kita menjadi seseorang yang mau berbagi rasa?
Kadang-kadang ketika kita berusaha keras mengatakan hal yang tepat untuk orang yang hendak kita hibur, kita lupa bahwa bahasa perasaan dapat berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata. Ada kalanya hal terbaik yang dapat kita lakukan ialah "menangislah dengan orang yang menangis" (Roma 12:15b).
Menolong sesama yang ada dalam kesukaran dimulai ketika kita "ikut merasakan penderitaan mereka"
SIMPATI ADALAH
DUA HATI YANG MENANGGUNG SATU BEBAN.
Salam KG