Motivasi & Inspirasi

Sebuah Refleksi atau Kesedihan dan penerimaan korban banjir dan longsor Sumatera dan Aceh

Tanggal : Kamis, 29 Januari 2026 , 14



        Sebuah Refleksi atas Kesedihan dan Penerimaan korban banjir dan longsor

        Sumatera dan Aceh

 

Pada November 2025, banjir bandang dan tanah longsor melanda, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh yang meninggalkan luka mendalam bagi seluruh keluarga korban dan masyarakat luas. Tragedi ini menelan korban jiwa yang tidak sedikit dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang sangat parah.

Kematian orang-orang tercinta dalam tragedi ini  membawa kesedihan yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Proses pencarian korban dan identifikasi jenazah menambah luka keluarga. Namun, di tengah kesedihan, masyarakat Sumatra dan Aceh menunjukkan ketabahan dan keberanian untuk bangkit kembali.

Model Kesedihan Kubler-Ross dapat membantu memahami proses yang dialami keluarga korban, dengan lima tahapan:

-        Denial (Penolakan) mungkin terjadi ketika keluarga awalnya tidak percaya bahwa tragedi ini benar-benar terjadi.

-        Anger (Marah) muncul ketika mereka menyadari bahwa kerusakan lingkungan dan kurangnya kesiapan bencana menjadi faktor utama tragedi ini.

-        Bargaining (Penawaran) mungkin terjadi ketika mereka berharap ada keajaiban, bahwa korban masih bisa diselamatkan.

-        Depression (Depresi) adalah tahap yang pasti dialami keluarga, ketika mereka menyadari bahwa korban benar-benar tiada.

-        Acceptance (Menerima) adalah tahap terakhir, ketika mereka menerima kenyataan dan memilih untuk melanjutkan hidup. Tahap penerimaan merupakan tahap terakhir dalam tahap kesedihan. Hal ini bukan berarti kita tidak lagi merasakan sakit atas suatu kejadian tragis, akan tetapi kita tidak lagi melawan realita dari kejadian yang sudah terjadi dan menerima kejadian tersebut sebagai sesuatu yang sudah tidak bisa diubah (new normal). Seseorang sadar bahwa ia harus melaluinya dan belajar atas musibah yang menimpanya dan ia tetap harus melanjutkan hidupnya dengan baik.

 

 

Banjir dan longsor ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Bencana ini disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan kerusakan lingkungan.

Beberapa faktor penyebabnya:

Faktor Alam:

- Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka dan Siklon Tropis Koto di Laut Sulu menciptakan pola cuaca ekstrem.

- Indeks Ocean Dipole (IOD) negatif yang memicu pertemuan arus angin dan massa udara di Sumatera Barat, memperparah curah hujan ekstrem.

 

Kerusakan Lingkungan:

- Deforestasi dan alih fungsi lahan di wilayah hulu sungai menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menahan air.

- Pembangunan infrastruktur di lereng rawan longsor tanpa penguatan struktur tanah yang memadai.

- Sistem drainase perkotaan yang belum siap menampung debit air ekstrem.

Dampak Bencana:

- Lebih dari 1.201 orang tewas dan 142 orang hilang.

- Ribuan rumah rusak dan puluhan ribu jiwa terpaksa mengungsi.

- Kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, dan fasilitas publik.

 

Respons Pemerintah dan Rekomendasi:

- Pemerintah mengaktifkan mobilisasi penuh seluruh sumber daya nasional untuk penanganan bencana.

- Kementerian Sosial memimpin penyaluran bantuan logistik dan dukungan dapur umum.

- Pembangunan infrastruktur pengendali banjir dan sistem peringatan dini yang lebih baik.

- Rehabilitasi ekosistem hutan di wilayah hulu sungai.

- Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk melarang pembangunan di zona merah bencana.

 

Refleksi untuk lebih siap menghadapi bencana alam:

- Mengembalikan fungsi hutan: melindungi dan merehabiliti hutan untuk mengurangi resiko banjir

- Meningkatkan kesadara ekologis: Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan

- Membangun sistem peringatan diri: Menghubungkan sistem peringatan diri dengan masyarakat akar rumput.

Tragedi ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih memperhatikan lingkungan dan tidak hanya memikirkan kepentingan ekonomi semata. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mencegah bencana serupa terjadi di masa depan.

 

                                                                                                                                                                          Refleksi awal 2026

                                                                                                                                                     K.G ( Founder Rumah Motivasi &  Insprasi Serenity )


Bagikan :